SUPREMASI.id – Di tengah kemeriahan prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rabu (24/6), sebuah kisah tentang toleransi dan keberagaman mencuri perhatian ribuan peserta dan tamu yang hadir.
Kisah itu datang dari Gabriel Lydia Hotmadia Sianturi, seorang wisudawati beragama Kristen yang mengaku merasakan langsung nilai-nilai rahmatan lil alamin selama menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah tersebut.
Di hadapan para wisudawan, pimpinan universitas, dosen, serta keluarga yang memenuhi lokasi wisuda, Gabriel membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa nonmuslim di lingkungan kampus yang identik dengan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
“Saya seorang Kristiani di kampus yang penuh dengan keislaman, dengan ciri khas kemuhammadiyahannya. Tapi itulah Muhammadiyah, sangat toleran dan menghargai perbedaan,” ungkapnya.
Pengakuan Gabriel bukan sekadar cerita biasa. Sebelum memutuskan kuliah di UMSU, ia mengaku sempat dihantui berbagai keraguan. Beragam persepsi yang berkembang di lingkungan sekitarnya membuat dirinya bertanya-tanya apakah akan diterima dengan baik sebagai seorang mahasiswa Kristen.
Kekhawatiran itu semakin besar karena sejak kecil ia aktif dalam kegiatan gereja sebagai guru sekolah minggu. Ia bahkan sempat mempertanyakan apakah identitas dan keyakinannya akan tetap terjaga ketika berada di lingkungan yang sangat kental dengan nuansa Islami.
“Saya pernah ragu ketika masuk UMSU. Apakah saya akan dibedakan? Apakah keimanan saya akan hilang di lingkungan yang sangat Islami?” kenangnya.
Namun, semua keraguan itu perlahan sirna sejak hari-hari pertama menjadi mahasiswa. Ia merasakan suasana kampus yang terbuka, inklusif, dan menghormati perbedaan.
“Tapi saya disambut hangat dan tidak dibedakan. Terbukti orang tua saya mempercayakan dua anaknya kuliah di sini,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Bagi Gabriel, pengalaman yang ia rasakan selama kuliah menjadi bukti bahwa perbedaan tidak harus menjadi sekat. Justru di UMSU, perbedaan menjadi ruang untuk saling belajar dan memperkaya wawasan.
“Di saat yang lain memilih perdebatan tentang kebenaran agama masing-masing, Muhammadiyah justru menjadikan perbedaan sebagai ruang diskusi dan memperkaya pengetahuan,” ujarnya.
Dengan mata berbinar, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh sivitas akademika UMSU yang telah menerimanya sebagai bagian dari keluarga besar kampus.“Rahmatan lil alamin betul-betul saya rasakan di UMSU. Terima kasih UMSU telah menerima saya dengan hangat. Semoga langkah kita dipenuhi kesuksesan dan keberkahan. Pendidikan yang sesungguhnya selalu punya ruang bagi semua manusia,” tuturnya.
Wisuda 2.440 Lulusan
Kisah Gabriel menjadi salah satu momen berkesan dalam rangkaian Wisuda Periode I Tahun 2026 UMSU yang digelar selama tiga hari dan diikuti 2.440 lulusan.Pada hari kedua, sebanyak 839 wisudawan mengikuti prosesi wisuda yang berasal dari tiga fakultas, yakni Fakultas Agama Islam (237 lulusan), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (431 lulusan), serta Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (171 lulusan).
Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP, Wakil Rektor I Prof. Dr. Muhammad Arifin, M.Hum, Wakil Rektor III Dr. Rudianto, M.Si, Direktur Sekolah Pascasarjana, para dekan, ketua program studi, serta keluarga wisudawan.
Selain Gabriel, perhatian juga tertuju pada Anggita Sari Rangkuti, wisudawati berprestasi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang pernah menjadi finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional.Dalam pesannya kepada para lulusan, Anggita mengajak seluruh wisudawan untuk berani melangkah dan mengambil kesempatan meskipun belum mengetahui seluruh jawabannya.
“Hidup tidak meminta kita tahu jawabannya terlebih dahulu, tapi bagaimana kita melakukannya. Tidak semua perjalanan besar dimulai dari peta yang besar, tapi dari ‘saya coba dulu’,” katanya.
Di Balik Toga, Ada Perjuangan Orang Tua
Sementara itu, Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd mengingatkan bahwa keberhasilan para wisudawan meraih gelar sarjana merupakan hasil dari perjuangan panjang yang tidak hanya dilakukan mahasiswa, tetapi juga orang tua.
“Di balik setiap toga terdapat air mata pengorbanan. Ada air mata orang tua yang berjuang agar anak-anaknya sampai di titik ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor memaparkan berbagai capaian akademik dan reputasi internasional yang berhasil diraih UMSU, mulai dari pengakuan melalui pemeringkatan QS Stars, Times Higher Education Impact Rankings, World University Rankings, hingga pengakuan mutu dari Malaysian Qualifications Agency (MQA).
Tak hanya itu, empat program studi UMSU juga berhasil meraih akreditasi internasional FIBAA, masing-masing dua program studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta dua program studi di Fakultas Agama Islam.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi mahasiswa, Rektor memberikan beasiswa alumni untuk melanjutkan studi pascasarjana kepada dua lulusan terbaik dan berprestasi, yakni Anggita Sari Rangkuti dan Gabriel Lydia Hotmadia Sianturi.
Menuju World Class University
Ketua BPH UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya wisuda yang menjadi indikator bahwa proses akademik berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi bagi masyarakat.
“Sejak semalam wisuda sudah dimulai. Tentu ini sebuah kebanggaan, artinya proses akademik berjalan dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, para lulusan harus mampu membuktikan kualitas diri melalui karya dan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Ia juga menegaskan optimisme UMSU untuk mencapai target sebagai world class university sebelum tahun 2033.
“Kita harap nantinya UMSU menuju world class university sebelum 2033 akan tercapai dengan dukungan seluruh pihak,” katanya.Apresiasi serupa disampaikan Koordinator/Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IX Sumatera Utara Prof. Dr. Abdullah Jamil, M.A. yang menilai berbagai capaian UMSU, khususnya Fakultas Agama Islam, menunjukkan arah kemajuan yang konsisten.
“Capaian ini tentunya sesuai dengan slogan yang menjadi konsep jati diri UMSU. Inilah konsep kemajuan yang akan membawa UMSU pada keberlanjutan,” ujarnya.
Wisuda kali ini juga menjadi cerminan semakin terbukanya UMSU sebagai kampus berkelas internasional. Selain mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, sejumlah lulusan mancanegara asal Thailand dan Kamboja turut menyelesaikan studi mereka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, serta Fakultas Agama Islam.
Di antara ribuan toga yang dikenakan para lulusan hari itu, kisah Gabriel menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar akademik. Pendidikan juga tentang ruang yang mampu menerima perbedaan, menumbuhkan rasa saling menghormati, dan menghadirkan nilai kemanusiaan bagi semua. Sebuah spirit rahmatan lil alamin yang, menurut Gabriel, benar-benar ia rasakan selama menjadi bagian dari keluarga besar UMSU. (*)
