SUPREMASI.id — Ilmu pengetahuan akan menemukan makna yang lebih luas ketika tidak berhenti di ruang kelas. Bagi Assoc. Prof. Dr. dr. Humairah Medina Liza Lubis, M.Ked(PA)., Sp.PA., ilmu yang dipelajari mahasiswa harus mampu menjelma menjadi kepedulian dan aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu memilih untuk tidak hanya berdiri di depan kelas menyampaikan materi. Bersama mahasiswa, Humairah aktif merancang dan menjalankan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Baginya, menjadi dosen bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari kehidupan nyata. Masyarakat menjadi tempat mahasiswa mengasah kepekaan, memahami persoalan, sekaligus menguji bagaimana ilmu yang dipelajari dapat digunakan untuk menghadirkan solusi.
Filosofi tersebut menjadi pijakan Humairah dalam menjalankan pengabdian. Dia meyakini, ketika kapasitas akademis dipadukan dengan empati sosial, ilmu tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga perubahan yang memiliki arti bagi banyak orang.
Ditemui di sela aktivitasnya di Kampus FKIK UMSU, Humairah mengatakan tugas seorang dosen tidak berhenti pada penyampaian materi perkuliahan. Dosen juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengalaman belajar yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus masyarakat.
“ Saya percaya ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kepedulian, lahirlah karya yang berdampak. Dan ketika dosen dan mahasiswa berjalan bersama, pengabdian bukan hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi sebuah perjalanan untuk menghadirkan perubahan yang nyata,” ungkapnya.
Pilihan Humairah untuk berjalan bersama mahasiswa dalam berbagai kegiatan sosial bukan tanpa alasan. Dia ingin mahasiswa terlibat sejak awal, mulai dari mengenali persoalan di tengah masyarakat, mendengarkan kebutuhan warga, merancang gagasan, hingga mencari solusi melalui inovasi.
Dengan cara itu, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan teori. Mereka juga belajar memahami manusia, berkomunikasi dengan masyarakat, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, serta mempertanggungjawabkan ilmu yang dimiliki.
Dari Kampus ke Desa Binaan
Dedikasi Humairah sebagai sosok dosen berdampak juga tercermin dari keterlibatannya dalam berbagai program pengembangan mahasiswa. Salah satunya melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Bersama mahasiswa, Humairah ikut mendorong pembangunan desa binaan dengan mengembangkan inovasi yang bertumpu pada potensi lokal. Program tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus memahami persoalan masyarakat secara lebih dekat.
Pengalaman di lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menghasilkan gagasan, tetapi juga belajar memastikan gagasan tersebut benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kiprah Humairah bersama mahasiswa juga terlihat ketika bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh. Di tengah kondisi yang membutuhkan penanganan cepat, Humairah bersama mahasiswa turun langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak.
Pelayanan kesehatan tersebut dilengkapi dengan edukasi dan bantuan kemanusiaan lainnya. Kehadiran mereka tidak sekadar membawa bantuan, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada warga yang sedang menghadapi masa sulit.
Bagi Humairah, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa. Di tengah keterbatasan dan persoalan yang dihadapi korban bencana, mahasiswa belajar bahwa profesi di bidang kesehatan memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat kuat.
Mendampingi Mahasiswa Mengejar Prestasi
Kepedulian Humairah terhadap mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan pengabdian. Dia juga aktif mendorong mahasiswa untuk berani mengikuti berbagai kompetisi ilmiah dan mengembangkan gagasan kreatif.
Pendampingan dilakukan sejak tahap awal. Humairah terlibat dalam proses penyusunan ide, penelitian, penyempurnaan karya hingga persiapan presentasi. Mahasiswa didorong untuk berani menyampaikan gagasan, mempertahankan argumentasi, serta mengembangkan inovasi yang memiliki nilai manfaat.
Pendekatan tersebut membuat hubungan dosen dan mahasiswa tidak hanya berlangsung dalam konteks perkuliahan. Ada proses pembimbingan yang memungkinkan mahasiswa tumbuh melalui pengalaman, tantangan, kegagalan, sekaligus pencapaian.
Humairah ingin mahasiswa yang didampinginya tumbuh menjadi pribadi yang berani berpikir, kreatif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Dedikasi tersebut turut mengantarkan Humairah meraih penghargaan sebagai dosen pendamping dengan jumlah judul Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) terbanyak yang didanai pada 2025.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu catatan dari perjalanan panjangnya dalam mendampingi mahasiswa. Namun bagi Humairah, capaian tersebut bukan tujuan akhir.
Ilmu yang Berubah Menjadi Aksi
Aktivitas Humairah memperlihatkan bahwa pendidikan kedokteran tidak harus berhenti pada teori yang dipelajari di ruang kuliah. Pengetahuan medis dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata ketika dosen dan mahasiswa memiliki kemauan untuk hadir di tengah masyarakat.
Melalui pengabdian, penelitian, pendampingan mahasiswa, hingga kegiatan kemanusiaan, ilmu kesehatan ditransformasikan menjadi aksi yang memberikan solusi konkret.
Di titik inilah sosok Humairah menjadi contoh praktik dosen berdampak. Dia mengajak mahasiswa melihat bahwa keberhasilan akademik tidak hanya diukur dari nilai, gelar, atau jumlah penghargaan, tetapi juga dari seberapa jauh ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat.
“Pada akhirnya, prestasi terbaik bukan hanya tentang apa yang berhasil kami raih, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang kami tinggalkan bagi masyarakat,” tegas Humairah.
Prinsip tersebut sejalan dengan komitmen UMSU untuk menjadi kampus yang unggul seunggul-unggulnya. Bagi Humairah, menjadi bagian dari UMSU juga berarti memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap dinamika sosial dan ikut mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, langkahnya bersama mahasiswa bukan sekadar rangkaian kegiatan akademik maupun pengabdian. Ada nilai yang terus ditanamkan: bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan dan digunakan untuk membantu sesama.
Humairah berharap aktivitas yang dijalankan bersama mahasiswa dapat menjadi pemantik inspirasi bagi seluruh civitas akademika UMSU. Semakin banyak dosen dan mahasiswa yang bergerak, semakin besar pula peluang kampus menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas. Desa, lokasi bencana, komunitas masyarakat, hingga berbagai persoalan sosial dapat menjadi ruang pembelajaran yang membentuk mahasiswa menjadi insan berilmu sekaligus peduli.
Di sanalah ilmu menemukan maknanya—ketika pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan melalui kepedulian dan kerja nyata.(*)
