Oleh: M Risfan Sihaloho
Ada kata yang sederhana, tetapi bisa menjadi energi besar ketika ia dirumuskan menjadi sebuah visi bersama. Salah satunya adalah “MELEJIT” yang kini menjadi tagline baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
“UMSU Melejit” bukan sekadar permainan kata untuk membangun citra institusi. Ia dapat dibaca sebagai sebuah *pernyataan paradigma*, yakni penegasan bahwa UMSU ingin bergerak lebih cepat, lebih tinggi, lebih luas, dan lebih berdampak dalam menjalankan mandat pendidikan tinggi Muhammadiyah.
Di bawah kepemimpinan Rektor UMSU periode 2026–2030, *Prof. Dr. Akrim, M.Pd., kata MELEJIT memperoleh konteks baru: bagaimana capaian yang telah dibangun selama ini tidak berhenti sebagai prestasi, tetapi menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya.
Karena itu, MELEJIT semestinya dipahami bukan hanya sebagai slogan, melainkan cara pandang tentang masa depan UMSU.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dalam konteks semangat tersebut menegaskan: “UMSU bersama Muhammadiyah harus MELEJIT sampai ke level global,”.
Pernyataan ini penting. Sebab, globalisasi bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah bukan semata-mata tentang peringkat internasional, jumlah mahasiswa asing, publikasi bereputasi, atau kerja sama dengan universitas luar negeri.
Globalisasi juga menyangkut kemampuan menghadirkan nilai, ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemanusiaan yang melampaui batas geografis.
Dengan demikian, MELEJIT mempunyai makna strategis yang dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tiga perspektif: paradigmatik, teologis, dan praksis.
MELEJIT sebagai Paradigma Kemajuan
Secara filosofis, kemajuan selalu berangkat dari kesadaran bahwa keadaan hari ini bukanlah batas terakhir dari kemungkinan masa depan. Perguruan tinggi yang hanya puas dengan pencapaian masa lalu akan mengalami paradoks: semakin banyak prestasi yang diraih, semakin besar kemungkinan terjebak dalam zona nyaman.
Karena itu, MELEJIT dapat dimaknai sebagai paradigma anti-kemapanan dalam arti positif. Ia mengandung dorongan untuk terus melakukan pembaruan, inovasi, akselerasi, dan transformasi.
Dalam perspektif ini, keberhasilan bukanlah garis akhir. Keberhasilan adalah modal untuk melahirkan keberhasilan berikutnya. UMSU tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang sudah kita capai?” Pertanyaan yang lebih strategis adalah; “Setelah mencapai semua itu, ke mana kita akan bergerak?”
Pertanyaan tersebut mengubah orientasi institusi dari sekadar mempertahankan prestasi menuju menciptakan lompatan baru.
MELEJIT karena itu mengandung setidaknya empat dimensi filosofis: bergerak, bertumbuh, melampaui batas, dan memberi dampak.
Bergerak berarti tidak stagnan. Bertumbuh berarti meningkatkan kualitas secara berkelanjutan. Melampaui batas berarti berani keluar dari zona nyaman. Sedangkan memberi dampak berarti kemajuan institusi harus memiliki manfaat bagi masyarakat.
Dengan paradigma demikian, UMSU tidak sedang mengejar kemajuan demi kemajuan itu sendiri. Kemajuan harus memiliki arah etik dan kemanfaatan sosial.
Dari Islam Berkemajuan menuju Universitas yang Berkemajuan
Di sinilah MELEJIT menemukan relevansinya dengan gagasan besar Muhammadiyah tentang konsep Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan tidak menempatkan umat sebagai penonton perubahan zaman. Sebaliknya, umat didorong untuk menjadi subjek yang mampu membaca perubahan, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan.
Dalam kerangka itu, kemajuan bukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Justru ilmu, pendidikan, kerja keras, inovasi, dan pengembangan peradaban merupakan bagian dari ikhtiar manusia menjalankan amanah kekhalifahan di muka bumi.
Al-Qur’an sendiri memberikan landasan kuat tentang pentingnya perubahan dan ikhtiar manusia. Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini sering dibaca dalam konteks perubahan sosial, tetapi secara paradigmatik ia memberikan pesan yang sangat relevan bagi dunia pendidikan tinggi: perubahan menuntut kesadaran, ikhtiar, dan keberanian untuk bergerak.
Tidak ada kemajuan yang lahir dari sikap pasif. MELEJIT dengan demikian dapat ditempatkan sebagai bentuk aktualisasi dari semangat perubahan tersebut. UMSU dituntut untuk tidak sekadar menunggu perubahan zaman, tetapi mengantisipasi, mengarahkan, bahkan menciptakan perubahan.
Al-Qur’an juga mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu:“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini memberikan fondasi teologis yang kuat bahwa ilmu mempunyai kedudukan mulia dalam Islam.
Maka, jika UMSU ingin MELEJIT, salah satu instrumen utamanya adalah ilmu pengetahuan. Universitas tidak mungkin melejit tanpa dosen yang terus belajar, mahasiswa yang memiliki daya pikir kritis, riset yang kuat, inovasi yang relevan, tata kelola yang modern, dan ekosistem akademik yang memungkinkan lahirnya gagasan-gagasan baru.
Dengan kata lain, MELEJIT harus berangkat dari tradisi ilmu.
Kemajuan sebagai Amanah, Bukan Sekadar Kompetisi
Ada hal yang penting untuk digarisbawahi, bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak boleh memahami kemajuan semata-mata sebagai perlombaan dengan perguruan tinggi lain. Memang, universitas harus kompetitif. Tetapi kompetisi hanyalah salah satu instrumen. Tujuan yang lebih besar adalah kemaslahatan.
Dalam konteks ini, QS. Al-Baqarah: 30 tentang manusia sebagai khalifah di bumi memberikan perspektif penting. Manusia diberikan amanah untuk mengelola kehidupan, bukan merusaknya.Karena itu, semakin tinggi kapasitas sebuah universitas, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya.
UMSU yang MELEJIT tidak hanya diukur dari berapa banyak gedung yang dibangun, berapa banyak mahasiswa yang diterima, atau berapa banyak penghargaan yang diraih.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apa yang berubah di tengah masyarakat karena kehadiran UMSU? Apakah risetnya menyelesaikan persoalan masyarakat? Apakah alumninya mampu menjadi pemimpin yang berintegritas? Apakah inovasinya memberi manfaat? Apakah pendidikan yang diberikan mampu membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak?
Jika jawabannya semakin kuat, maka MELEJIT bukan lagi sekadar branding. Ia telah menjadi “gerakan peradaban”.
MELEJIT dan Praksis Perguruan TinggiPada tataran praksis, MELEJIT harus diterjemahkan menjadi agenda yang konkret.
Pertama, MELEJIT dalam kualitas akademik. UMSU harus terus memperkuat kualitas pembelajaran, kompetensi dosen, kurikulum berbasis kebutuhan zaman, pendidikan karakter, serta budaya akademik yang kritis dan produktif.
Kedua, MELEJIT dalam riset dan inovasi. Universitas masa depan tidak cukup menjadi konsumen pengetahuan. Ia harus menjadi produsen pengetahuan. Penelitian harus diarahkan pada persoalan strategis bangsa sekaligus memiliki peluang untuk berkontribusi pada diskursus global.
Ketiga, MELEJIT dalam internasionalisasi. Level global bukan berarti kehilangan identitas lokal. Justru universitas yang kuat secara global adalah universitas yang mampu membawa kekayaan lokal ke dalam percakapan dunia. UMSU dapat menjadikan Sumatera Utara dan Indonesia sebagai laboratorium pengetahuan, kemudian membawa hasil pemikiran, riset, dan inovasinya ke tingkat internasional.
Keempat, MELEJIT dalam transformasi digital. Perguruan tinggi tidak dapat menghindari perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan artifisial. Digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan manual menjadi layanan elektronik, tetapi mengubah cara universitas belajar, meneliti, melayani, dan mengambil keputusan.
Kelima, MELEJIT dalam pengembangan sumber daya manusia. Mahasiswa harus dipersiapkan bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk menjadi pencipta nilai. Mereka perlu memiliki kemampuan akademik, literasi digital, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kewirausahaan, kreativitas, dan terutama integritas.
Keenam, MELEJIT dalam pengabdian kepada masyarakat. Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki tradisi pengabdian yang kuat. Karena itu, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas dan jurnal ilmiah. Ilmu harus turun ke masyarakat dan menjawab problem nyata.
Dari “Melejit” Menjadi “Menggerakkan”
Pada titik ini, MELEJIT dapat dibaca lebih luas daripada sekadar kata “melompat tinggi”. Melejit harus berarti “menggerakkan”. Menggerakkan dosen untuk terus menghasilkan karya. Menggerakkan mahasiswa untuk berprestasi. Menggerakkan peneliti untuk menemukan solusi. Menggerakkan fakultas untuk berinovasi. Menggerakkan alumni untuk memberi kontribusi. Dan menggerakkan seluruh ekosistem UMSU agar memiliki keberanian memandang masa depan.
Dengan perspektif tersebut, kepemimpinan periode 2026–2030 memiliki pekerjaan yang tidak ringan. Tantangannya bukan sekadar melanjutkan apa yang telah dibangun, tetapi mengubah modal historis menjadi energi transformasi baru.
Prof. Dr. Akrim, M.Pd. sebagai Rektor UMSU periode tersebut berada dalam momentum yang strategis untuk menerjemahkan MELEJIT menjadi program, indikator, budaya organisasi, dan capaian yang dapat dirasakan.
Sementara capaian kepemimpinan sebelumnya di bawah Prof. Dr. Agussani, M.AP. merupakan fondasi yang tidak boleh diputus, melainkan harus dikembangkan menjadi pijakan untuk melakukan lompatan berikutnya.
Dengan demikian, kesinambungan dan perubahan bukan dua hal yang bertentangan. Fondasi yang kokoh justru diperlukan agar lompatan menjadi lebih tinggi.
Benang Merah dengan Muktamar ke-49 Muhammadiyah
Menariknya, tagline MELEJIT juga memiliki ruang dialog yang kuat dengan jargon Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tahun 2027 di Sumatera Utara: “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”
Keduanya memiliki benang merah yang sama: ilmu, kemajuan, dan kontribusi peradaban. “Cerdas Bangsa” mengandung orientasi pembangunan manusia melalui kecerdasan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Sementara “Semesta Bercahaya” memberikan cakrawala yang lebih luas: kecerdasan dan kemajuan tidak boleh berhenti pada individu atau institusi, tetapi harus memancarkan manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, MELEJIT dapat menjadi energi institusional, sedangkan “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” menjadi horizon gerakan yang lebih luas.
Dalam konteks ini, UMSU melejit bukan untuk dirinya sendiri. UMSU melejit agar ilmu yang dikembangkan dapat mencerdaskan. UMSU melejit agar inovasi yang dilahirkan dapat menerangi. UMSU melejit agar alumni yang dihasilkan dapat memberi manfaat. Dan UMSU melejit agar Muhammadiyah semakin kuat dalam menjalankan misi Islam Berkemajuan.
Dari Sumatera Utara untuk Dunia
Pada akhirnya, makna paling strategis dari MELEJIT terletak pada keberanian mengubah cara pandang. UMSU tidak harus memilih antara menjadi universitas yang berakar kuat di Sumatera Utara atau universitas yang memiliki orientasi global. Keduanya dapat berjalan bersama: “Berakar lokal, berwawasan global”.
UMSU dapat menjadikan kekuatan lokal sebagai sumber keunggulan, sementara dunia menjadi ruang aktualisasi. Inilah makna globalisasi yang seharusnya dibangun oleh perguruan tinggi Muhammadiyah: bukan sekadar membawa nama universitas ke luar negeri, tetapi membawa nilai, ilmu, dan kontribusi Muhammadiyah ke dalam pergaulan dunia.
Karena itu, MELEJIT pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi UMSU dapat naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Seberapa luas cahaya kemajuan yang dapat dipancarkan setelah UMSU melejit?Jika MELEJIT mampu menjadi paradigma, kemudian diterjemahkan menjadi budaya akademik, tata kelola, riset, inovasi, internasionalisasi, pengembangan mahasiswa, dan pengabdian masyarakat, maka tagline tersebut akan melampaui fungsi branding.
Ia akan menjadi “etos gerak”. Dan ketika etos itu hidup di dalam seluruh warga universitas, maka “UMSU Melejit” bukan lagi sekadar jargon.
Ia menjadi sebuah ikhtiar kolektif untuk menghadirkan Universitas Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, berdaya saing global, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
Dari Sumatera Utara, UMSU melejit. Dari ilmu, ia mencerdaskan. Dari nilai, ia memberi arah. Dan dari pengabdian, ia menghadirkan cahaya bagi semesta.(*)
Penulis adalah Alumni UMSU
