SUPREMASI.id – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Masjid Taqwa Muhammadiyah Titi Papan, Jumat malam. Usai salat Isya, jamaah dari berbagai kalangan usia memadati masjid untuk mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Titi Papan, Cabang Medan Marelan.
Anak-anak, remaja, hingga para orang tua tampak duduk bersama menyimak tausiyah yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan, Assoc. Prof. Dr. Zailani, MA.
Kebersamaan lintas generasi itu menjadi gambaran hidupnya aktivitas dakwah di Masjid Taqwa yang terus berkembang.
Pengajian dibuka oleh Assoc. Prof. Dr. Faisal Riza selaku protokol yang juga Sekretaris PRM Titi Papan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri Pesantren Muhammadiyah Kuala Madu, Hafiz Nurrokhim, yang menambah kekhusyukan suasana.
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Zailani menyampaikan apresiasi atas perkembangan Masjid Taqwa Muhammadiyah Titi Papan. Menurutnya, kemajuan sebuah masjid tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari semakin hidupnya aktivitas ibadah dan kebersamaan jamaah.
“Masjid ini masih relatif baru, tetapi perkembangannya sangat baik. Yang paling menggembirakan adalah jamaahnya hadir dari berbagai generasi. Ini menjadi tanda bahwa masjid mulai menjadi pusat pembinaan umat,” ungkapnya.
Dalam ceramahnya, Ustadz Zailani mengulas tentang keistimewaan Kota Makkah dan Madinah sebagai dua kota suci dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa kemuliaan Makkah tidak terlepas dari keberadaan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, sementara Madinah dimuliakan karena menjadi kota hijrah Rasulullah SAW, lokasi Masjid Nabawi, sekaligus tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW.Menurutnya, keberkahan sebuah tempat lahir dari kedekatannya dengan nilai-nilai ibadah dan ketakwaan kepada Allah.
Pembahasan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan masjid di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa salah satu ciri masjid yang diberkahi Allah adalah terjaganya persatuan di antara para pengurus dan jamaah.
“Masjid yang diberkahi adalah masjid yang tidak diwarnai perselisihan di antara pengurusnya. Jamaah merasa nyaman berada di dalamnya sehingga masjid benar-benar menjadi tempat yang menenangkan hati,” pesannya.
Sesi dialog berlangsung hangat ketika seorang jamaah menanyakan hadis yang menyebut Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai Babul ‘Ilmi atau pintu ilmu. Menanggapi hal itu, Ustadz Zailani menjelaskan bahwa empat sahabat utama Rasulullah SAW memiliki keistimewaan masing-masing.
Abu Bakar dikenal dengan gelar As-Siddiq, Umar bin Khattab bergelar Al-Faruq, Usman bin Affan mendapat gelar Dzunnurain, sedangkan Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai Babul ‘Ilmi karena keluasan ilmunya, kecerdasan, serta kebijaksanaannya dalam memahami ajaran Islam.
Sebagai salah satu sahabat terdekat Rasulullah SAW, Ali juga kerap menjadi rujukan dalam berbagai persoalan agama dan meninggalkan banyak mutiara hikmah yang terus dikenang hingga kini.
Di penghujung acara, Ketua PRM Titi Papan, Assoc. Prof. Dr. Faisal, memaparkan perkembangan Badan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (BPKS) ranting yang telah menjalankan pelayanan fardu kifayah serta layanan kesehatan bagi masyarakat.
Ia juga mengumumkan program baru berupa pemberian beasiswa kepada anak-anak anggota Muhammadiyah yang ingin menempuh pendidikan di Pesantren Muhammadiyah Kuala Madu. Pada tahap awal, beasiswa akan diberikan kepada dua orang penerima.
Melalui pengajian rutin yang tidak hanya menghadirkan kajian keislaman, tetapi juga melahirkan program-program sosial yang nyata, PRM Titi Papan berharap Masjid Taqwa terus berkembang menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus memperkuat ukhuwah di tengah kehidupan umat. (*)
