SUPREMASI.id – Medan | Mengelola keuangan tidak cukup hanya dengan memahami cara menabung. Di tengah berkembangnya peluang ekonomi kreatif, generasi muda juga dituntut mampu melihat peluang, mengembangkan keterampilan, hingga mengubah kreativitas menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan “LPS Special Birthday Edition: Financial Literacy & Entrepreneurship Workshop” yang digelar Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) I Medan di Lantai 9 Gedung Sinar Mas Land Plaza Medan, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang terbuka gratis bagi masyarakat Kota Medan dan sekitarnya ini tidak sekadar menghadirkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan. LPS juga membawa peserta lebih dekat pada dunia kewirausahaan melalui berbagai kegiatan praktik kreatif.
Acara tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun LPS ke-21 yang diperingati pada 22 September 2026. Momentum tersebut dimanfaatkan LPS untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya budaya menabung, pengelolaan keuangan yang sehat, sekaligus mengenalkan fungsi dan peran LPS dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.
Kepala Kantor Perwakilan LPS I Medan, Jimmy Ardianto, membuka kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi finansial perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas dan kemampuan menciptakan peluang usaha.
“Generasi muda tidak hanya membutuhkan edukasi keuangan, tetapi juga perlu dibekali kreativitas yang mampu membuka peluang usaha serta memicu jiwa kewirausahaan,” ujar Jimmy.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian kegiatan yang tidak berhenti pada pemaparan teori. Peserta diajak memahami bagaimana mengelola keuangan sekaligus melihat potensi ekonomi dari keterampilan yang mereka miliki.
Materi mengenai pengelolaan keuangan dan pengenalan fungsi LPS disampaikan Eva Damayanti dari Divisi Edukasi, Hubungan Masyarakat, dan Hubungan Kelembagaan Kantor Perwakilan LPS I. Pengetahuan tersebut menjadi bekal bagi peserta sebelum memasuki sesi yang lebih praktis.
Sebanyak 100 peserta kemudian memilih kelas creativepreneur workshop sesuai minat masing-masing. Dengan didampingi narasumber dan praktisi berpengalaman, peserta tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai strategi membangun bisnis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung membuat produk.
Lima kelas yang ditawarkan memberikan pilihan keterampilan yang dekat dengan kebutuhan industri kreatif dan peluang usaha sehari-hari. Peserta dapat mengikuti kelas meracik kopi untuk mempelajari teknik dasar sekaligus peluang bisnis kopi, Matcha Experience untuk mengeksplorasi kreasi minuman berbasis matcha, serta kelas merangkai bunga yang memadukan kreativitas dengan peluang komersial.
Ada pula kelas menghias kue yang mengenalkan teknik dekorasi sekaligus nilai estetika sebuah produk, serta kelas meracik parfum yang memperkenalkan dasar formulasi dan pembuatan aroma.
Konsep tersebut membuat edukasi keuangan terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta. Literasi tidak berhenti pada pemahaman bagaimana mengatur pemasukan dan pengeluaran, tetapi diarahkan pada kemampuan melihat peluang dan menciptakan nilai dari sebuah keterampilan.
Bagi LPS, pendekatan seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang semakin melek finansial sekaligus produktif. Pengetahuan keuangan diharapkan dapat membantu masyarakat mengambil keputusan finansial secara lebih bijak, sementara keterampilan kewirausahaan membuka ruang bagi lahirnya peluang ekonomi baru.
Para peserta pun menyambut positif kegiatan tersebut. Selain mendapatkan wawasan mengenai pengelolaan keuangan dan peran LPS, mereka memperoleh pengalaman praktis yang dapat dikembangkan menjadi hobi maupun peluang usaha.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi keuangan dapat dikemas dengan cara yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Harapannya, kegiatan serupa dapat kembali digelar LPS Medan sehingga manfaat literasi keuangan dan kewirausahaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.(*)
