SUPREMASI.id – Medan | Langkah awal integrasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Indah Medan ke dalam keluarga besar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ditandai dengan pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan bagi seluruh sivitas akademika.
Kegiatan yang digelar di Kampus STIKes Indah Medan, Jalan Saudara Ujung, Medan, Jumat (21/8/2026), terasa istimewa. Bukan hanya karena menjadi momentum silaturahim pertama setelah STIKes Indah Medan resmi bergabung dengan UMSU pada 5 Agustus 2026, tetapi juga karena pembinaan tersebut dihadiri langsung Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto, M.Ag.
Hadir pula Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah Dr. M. Nurul Yamin, M.Si., Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, MA., Ketua BPH UMSU Prof. Dr. Agussani, MAP, Drs. Mutholib, MM., Drs. H. Dalail Ahmad, MA., para wakil rektor, pimpinan, dosen, serta sivitas akademika STIKes Indah Medan.
Dari forum tersebut, satu pesan kuat mengemuka: bergabung dengan Muhammadiyah bukan sekadar perubahan kelembagaan, tetapi juga proses mengenal nilai, gerakan, tradisi, dan cita-cita besar persyarikatan dalam membangun peradaban.
“Selamat Datang Mualaf Muhammadiyah”
Dalam pembukaan pembinaan, Dr. Agung Danarto menyampaikan pesan yang sarat makna tentang keterbukaan Muhammadiyah.
“Selamat datang kepada mualaf Muhammadiyah, baik yang mualafnya asli Muhammadiyah maupun yang Krismuha,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi pintu masuk bagi penjelasan mengenai karakter Muhammadiyah sebagai organisasi yang terbuka dan mengedepankan kemanfaatan.
Menurut Agung, Muhammadiyah tidak membatasi kerja sama berdasarkan latar belakang agama maupun budaya. Setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
“Welcome to Muhammadiyah. Mari sama-sama kita membangun peradaban untuk memajukan masyarakat dan bangsa,” katanya.
Pesan itu menjadi relevan bagi sivitas akademika STIKes Indah Medan yang memiliki latar belakang beragam. Keberagaman tersebut justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun lingkungan pendidikan yang menjunjung moderasi, toleransi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Mengenal Kembali Gagasan KH Ahmad DahlanDi hadapan sivitas akademika STIKes Indah Medan, Agung juga mengajak peserta memahami kembali sejarah lahirnya Muhammadiyah.
Melalui pemutaran video narasi, ia menjelaskan perjalanan Muhammadiyah sejak didirikan KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912.Pertanyaan mengenai alasan berdirinya Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam pemaparan tersebut. Sebab, Islam telah berkembang di Nusantara jauh sebelum Muhammadiyah berdiri. Kerajaan-kerajaan Islam juga telah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Agung, salah satu latar belakang lahirnya Muhammadiyah berkaitan dengan kondisi umat Islam pada masa itu yang dinilai membutuhkan pembaruan dalam pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
Praktik keagamaan pada masa tersebut, menurutnya, di sejumlah tempat telah bercampur dengan berbagai tradisi sehingga diperlukan upaya untuk mengembalikan semangat Islam yang mendorong kemajuan.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia ketika itu juga menghadapi persoalan keterbelakangan, kebodohan dan penjajahan.
Dalam pandangan KH Ahmad Dahlan, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk sekadar pasrah menghadapi keadaan. Sebaliknya, Islam memiliki energi besar untuk mendorong umat agar maju, berpendidikan, mandiri, dan mampu memberikan manfaat.
“Pada dasarnya karena realitas umat Islam Indonesia saat itu sangat tertinggal, bodoh dan terjajah di mana-mana. Sementara menurut pandangan KH Ahmad Dahlan, ajaran Islam punya semangat yang tinggi mendorong umatnya untuk maju, bukan agama untuk kepasrahan saja atau hanya untuk ketenangan pribadi,” jelas Agung.
Ia menegaskan, semangat tersebut kemudian menjadi bagian dari karakter gerakan Muhammadiyah.
“Kata kuncinya sebenarnya, Muhammadiyah berdiri untuk membangun peradaban yang unggul, tanpa disibukkan dengan konflik karena energinya dikumpulkan untuk membangun bangsa yang maju. Berlomba-lomba menjadi yang terbaik untuk kebaikan, mencarikan jalan, sistem dan tradisi untuk mendorong setiap orang berkompetisi memberikan yang terbaik,” katanya.
UMSU dan STIKes Indah Medan Memulai Babak Baru
Sementara itu, Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd., menjelaskan bahwa pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan tersebut merupakan bagian dari langkah awal membangun hubungan yang lebih kuat antara UMSU dan sivitas akademika STIKes Indah Medan.
Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi momentum silaturahim pertama setelah STIKes Indah Medan resmi bergabung dengan UMSU pada 5 Agustus 2026.
“Setelah bergabung, sivitas akademika STIKes perlu mengetahui gerakan Muhammadiyah dalam pengembangan amal usaha Muhammadiyah,” ujar Akrim.
Menurutnya, bergabung dengan UMSU tidak hanya berkaitan dengan aspek administratif dan kelembagaan. Lebih jauh, terdapat nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan yang perlu menjadi bagian dari cara berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas.
Akrim berharap para dosen dan seluruh sivitas akademika yang telah menyatakan kesediaan bergabung bersama UMSU dapat mengedepankan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap tindakan maupun kebijakan.
“Harapannya, setelah dosen menyatakan bersedia bergabung dengan UMSU, harus mengedepankan nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap tindakan dan kebijakan,” katanya.
Menjawab Tantangan Pendidikan dengan NilaiAkrim juga mengingatkan bahwa dunia pendidikan terus menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika sosial, serta tuntutan terhadap kualitas sumber daya manusia membuat perguruan tinggi harus terus beradaptasi.
Karena itu, nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan dinilai penting sebagai fondasi agar perkembangan kelembagaan tetap memiliki arah dan orientasi yang jelas.
“Tantangan di dunia pendidikan semakin tinggi karena dinamikanya menarik. Kalau selama ini kurang, ke depan bisa lebih menguatkan semangat dengan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan,” ujarnya.
Keberadaan sivitas akademika STIKes Indah Medan yang berasal dari latar belakang beragam juga menjadi peluang untuk menghadirkan praktik pendidikan yang mengedepankan moderasi dan toleransi.
Menurut Akrim, keberagaman tersebut tidak semestinya menjadi sekat. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi modal sosial untuk membangun kebersamaan dan kerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan.
Bukan Sekadar Pembekalan
Pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di STIKes Indah Medan pada akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan lebih dekat sejarah, gagasan, nilai dan orientasi gerakan Muhammadiyah kepada sivitas akademika yang kini menjadi bagian dari keluarga besar UMSU.
Kehadiran jajaran PP Muhammadiyah, PWM Sumatera Utara, BPH UMSU, pimpinan universitas hingga sivitas akademika STIKes Indah Medan memperlihatkan pentingnya proses integrasi tersebut.
Bagi STIKes Indah Medan, bergabung dengan UMSU membuka babak baru dalam perjalanan kelembagaan. Sementara bagi UMSU, kehadiran STIKes Indah Medan memperluas amanah dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengabdian kepada masyarakat.
Semangat yang disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto menjadi benang merah dari pertemuan tersebut: Muhammadiyah membuka pintu bagi siapa saja untuk bersama-sama menghadirkan kemanfaatan.
Dari kampus kesehatan di Jalan Saudara Ujung itu, semangat membangun peradaban kembali ditegaskan—melalui pendidikan, kebersamaan, nilai keislaman, dan kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa.(*)
