SUPREMASI.id – Medan | Semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan pengibaran bendera dan perlombaan. Di Lingkungan X, Kelurahan Tanah 600, Kecamatan Medan Marelan, peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan warga sekaligus menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027.
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Titi Papan bersama masyarakat Lingkungan X menggelar Gebyar Semarak Muktamar Muhammadiyah ke-49 dan HUT Kemerdekaan RI ke-81, Sabtu-Minggu, 16-17 Agustus 2026, berpusat di lapangan voli Jalan Muslim Pancasila, Lingkungan X, Tanah 600, Medan Marelan.
Mengusung semangat “Bersama-sama Membangun Negeri Menuju Indonesia Berkemajuan”, kegiatan tersebut dirancang tidak sekadar menjadi pesta rakyat, tetapi juga ruang perjumpaan warga dari berbagai latar belakang untuk membangun kepedulian, gotong royong, dan kebersamaan.
Beragam kegiatan disiapkan untuk melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Anak-anak dapat mengikuti lomba mewarnai, lomba azan, hafalan surah pendek Al-Qur’an, hingga perlombaan lari. Sementara masyarakat umum ikut memeriahkan berbagai permainan khas perayaan kemerdekaan, seperti lomba makan kerupuk dan membawa kelereng atau guli menggunakan sendok.
Kegiatan semakin semarak karena PRM Titi Papan tidak hanya menghadirkan perlombaan. Sejumlah layanan sosial juga disiapkan, mulai dari konsultasi hukum, donor darah, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan mata, pangkas rambut gratis, hingga gelar UMKM.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi pintu masuk bagi gerakan sosial yang lebih luas. Warga tidak hanya berkumpul untuk merayakan hari bersejarah bangsa, tetapi juga memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, bantuan sosial, edukasi hukum, serta ruang bagi pelaku usaha mikro untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka.
Ketua Panitia, M. Iqbal, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana mempererat persatuan warga melalui kegiatan yang sederhana, merakyat, dan penuh kegembiraan.
Menurutnya, keberhasilan membangun lingkungan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah atau organisasi tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
Pesan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Lingkungan X, M. Rozi. Ia menyampaikan apresiasi kepada PRM Titi Papan yang telah menggagas kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas. M. Rozi berharap kegiatan semacam itu dapat memberikan manfaat bagi warga sekaligus mendorong kemajuan Lingkungan X pada masa mendatang.
“Terima kasih atas acara yang dilakukan. Semoga kegiatan ini bisa memajukan Lingkungan X menjadi lebih baik ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PRM Titi Papan Medan Marelan, Dr. Faisal, S.H., M.Hum., didampingi Sekretaris Dr. Faisal Riza, menekankan pentingnya membangun lingkungan dengan semangat kebersamaan.
Menurut Faisal, setiap persoalan dan aktivitas di tengah masyarakat akan lebih mudah diselesaikan ketika warga mampu mengesampingkan perbedaan yang tidak prinsipil dan mengedepankan kepentingan bersama.
“Kalau mau maju harus bersatu dan menerima perbedaan yang ada,” kata Faisal.
Ia mengajak masyarakat untuk bahu-membahu menjaga dan membangun lingkungan agar semakin baik. Perbedaan yang muncul dalam kehidupan sosial, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah hubungan antarwarga.
Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, produktif, dan saling membantu.
Faisal menegaskan, Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat. Kehadiran tersebut tidak berhenti pada aktivitas keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
“Jangan mempersoalkan perbedaan yang tidak prinsipil. Mari pupuk kebersamaan, bangun lingkungan ini agar lebih baik ke depannya,” ujarnya.
Dari Perayaan Kemerdekaan Menuju Indonesia Berkemajuan
Pemilihan tema “Bersama-sama Membangun Negeri Menuju Indonesia Berkemajuan” memiliki makna yang lebih luas. Kemerdekaan Indonesia yang memasuki usia ke-81 menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kualitas hubungan sosial masyarakat.
Semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia kembali dihidupkan melalui kegiatan PRM Titi Papan.
Anak-anak belajar berkompetisi secara sportif. Para orang tua bertemu dan berinteraksi dengan tetangga. Pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk memperkenalkan usaha. Masyarakat memperoleh layanan kesehatan dan konsultasi hukum. Semua bertemu dalam satu rangkaian kegiatan yang berangkat dari semangat kemerdekaan.
Di titik inilah peringatan HUT RI mendapatkan makna yang lebih dalam. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengisi kemerdekaan dengan kerja bersama dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Bagi PRM Titi Papan, momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari semarak menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke-49 tahun 2027. Muktamar menjadi momentum penting bagi Muhammadiyah untuk memperkuat gerakan dan menghadirkan kontribusi yang semakin luas bagi bangsa.
Karena itu, kegiatan di Lingkungan X bukan sekadar agenda seremonial. Ada pesan yang ingin ditanamkan: bahwa gerakan besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil, dari hubungan baik antarwarga, dari kepedulian terhadap tetangga, dan dari kemauan untuk bekerja bersama.
Lapangan voli di Jalan Muslim Pancasila pun menjadi titik temu berbagai aktivitas warga. Dari perlombaan anak-anak hingga layanan sosial, dari UMKM hingga kegiatan kemasyarakatan, semuanya menyatu dalam satu agenda.
PRM Titi Papan ingin menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan dapat mengambil peran nyata dalam kehidupan warga.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Muhammadiyah tentang gerakan yang mencerahkan dan berkemajuan. Masyarakat tidak hanya diajak untuk berkumpul, tetapi juga didorong untuk saling membantu, memperkuat kepedulian, dan menciptakan perubahan mulai dari lingkungan sendiri.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada, persatuan menjadi modal utama untuk bergerak maju.Sebab, membangun negeri tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, perubahan justru lahir dari hal sederhana: warga yang saling menyapa, anak-anak yang bermain bersama, tetangga yang saling membantu, pelaku UMKM yang diberi ruang, serta masyarakat yang mau bergandengan tangan menyelesaikan persoalan di lingkungannya.
Dari Tanah 600, semangat itu digaungkan.Merayakan kemerdekaan, memperkuat persaudaraan, menghidupkan gotong royong, dan meneguhkan langkah menuju masyarakat yang berkemajuan.(*)
