SUPREMASI.id – Langkat | Banjir bukan sekadar persoalan genangan air. Bagi masyarakat Desa Mekar Sawit, Kabupaten Langkat, bencana tersebut pernah melumpuhkan akses keluar-masuk desa, menghambat distribusi kebutuhan pokok, hingga memunculkan ancaman kerawanan pangan.
Pengalaman itu kini menjadi pijakan bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bersama masyarakat Desa Mekar Sawit untuk membangun strategi mitigasi bencana berbasis inovasi mahasiswa.
Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, UMSU mendorong Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) Fakultas Pertanian menghadirkan sejumlah inovasi yang tidak hanya berorientasi pada penanganan dampak banjir, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi masyarakat.
Program yang memperoleh pendanaan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UMSU, Assoc. Prof. Dr. Faisal, S.H., M.Hum., di Kantor Desa Mekar Sawit, Rabu (20/8/2026).
Pembukaan PPK Ormawa 2026 turut dihadiri Kepala Desa Mekar Sawit Supriadi, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMSU Abdurrahman Zuhdi, Ketua Student Research and Creativity Centre (SRCC) UMSU Fatimah Sari Siregar, serta Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UMSU Juwita.
Faisal mengatakan, PPK Ormawa merupakan salah satu bentuk nyata implementasi pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Pengetahuan dan inovasi yang diperoleh mahasiswa di lingkungan kampus, menurutnya, harus mampu diterjemahkan menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“PPK Ormawa bukan sekadar program kemahasiswaan, tetapi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Kami ingin setiap inovasi yang dihadirkan mampu menjawab kebutuhan desa, sekaligus membangun kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya berbagai kegiatan selama masa hibah. Lebih dari itu, program diharapkan mampu meninggalkan pengetahuan, keterampilan, serta model pemberdayaan yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan PPK Ormawa 2026 di Desa Mekar Sawit.
“Program harus memberikan manfaat berkelanjutan. Kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat menjadi fondasi agar inovasi yang dirintis mahasiswa dapat terus dikembangkan setelah program selesai,” katanya.
Hidroponik di Tempat Lebih Tinggi, Antisipasi Kerawanan PanganUsai membuka kegiatan, rombongan UMSU bersama pemerintah desa meninjau langsung sejumlah lokasi pelaksanaan PPK Ormawa yang dikerjakan HIMAGRI Fakultas Pertanian UMSU.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah instalasi tanaman hidroponik pada lokasi yang lebih tinggi. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Sistem hidroponik dirancang sebagai salah satu alternatif menjaga ketersediaan pangan masyarakat ketika banjir kembali terjadi dan lahan pertanian maupun pekarangan terdampak genangan.
Dengan memanfaatkan teknologi budidaya tanpa tanah, mahasiswa berupaya memperkenalkan pola pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan sekaligus dapat dikembangkan masyarakat dalam skala rumah tangga maupun kelompok.
Inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pangan dari luar desa ketika akses distribusi terganggu akibat banjir.
Tidak berhenti pada ketahanan pangan, PPK Ormawa HIMAGRI UMSU juga mengembangkan pemanfaatan arang briket sebagai produk bernilai ekonomi. Inovasi ini diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi bahan yang tersedia menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Mahasiswa tidak hanya memperkenalkan proses pengolahan, tetapi juga mendorong agar produk dapat dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi produktif masyarakat.
Konsep tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi bencana dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi. Masyarakat tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi bencana, tetapi juga didorong memiliki sumber penghasilan dan keterampilan yang dapat membantu memperkuat ketahanan ekonomi desa.
Langkah mitigasi lainnya dilakukan melalui penanaman pohon waru di sepanjang aliran sungai. Vegetasi di kawasan bantaran sungai menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi lingkungan. Penanaman pohon diharapkan dapat membantu memperkuat kawasan sekitar aliran sungai sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.
Bagi mahasiswa HIMAGRI, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung. Mereka tidak hanya mengaplikasikan ilmu pertanian, tetapi juga belajar membaca persoalan lingkungan, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta merancang solusi yang sesuai dengan karakteristik desa.
Kepala Desa Mekar Sawit, Supriadi, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Desa Mekar Sawit sebagai lokasi pelaksanaan PPK Ormawa UMSU. Menurutnya, program yang dibawa mahasiswa memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat, terutama setelah desa tersebut mengalami banjir besar pada tahun sebelumnya.
“Kami menyambut baik kehadiran UMSU melalui PPK Ormawa di Desa Mekar Sawit. Program-program seperti hidroponik, arang briket, dan penanaman pohon waru merupakan langkah yang sangat bermanfaat karena berangkat dari kebutuhan masyarakat setelah kami mengalami banjir besar tahun lalu,” katanya.
Supriadi berharap kerja sama antara Pemerintah Desa Mekar Sawit dan UMSU tidak berhenti setelah program PPK Ormawa berakhir. Ia ingin berbagai inovasi yang telah diperkenalkan mahasiswa dapat terus dirawat, dikembangkan, dan dikelola bersama masyarakat sehingga memberikan manfaat jangka panjang.
Menurutnya, keberadaan program berbasis inovasi seperti ini dapat menjadi modal penting bagi desa untuk membangun ketahanan menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.
Mahasiswa Hadir Membawa SolusiPPK Ormawa 2026 di Desa Mekar Sawit menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran lebih jauh dalam menjawab persoalan masyarakat.
Hidroponik menjadi ikhtiar memperkuat ketahanan pangan. Arang briket membuka peluang pengembangan ekonomi produktif. Sementara penanaman pohon waru menjadi bagian dari langkah menjaga lingkungan dan mitigasi banjir.
Ketiga program tersebut dirancang berdasarkan pengalaman nyata masyarakat menghadapi bencana. Di sinilah semangat pengabdian mahasiswa menemukan maknanya: bukan sekadar datang ke desa untuk menjalankan program, tetapi hadir dengan gagasan, ilmu pengetahuan, dan inovasi yang diharapkan mampu tumbuh bersama masyarakat.
Melalui PPK Ormawa 2026, UMSU dan HIMAGRI Fakultas Pertanian berupaya menjadikan Desa Mekar Sawit sebagai ruang kolaborasi untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana, sekaligus lebih mandiri dalam ketahanan pangan dan ekonomi.(*)
