SUPREMASI.id – Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kembali melahirkan 13 dokter baru melalui Yudisium dan Pengambilan Sumpah Profesi Dokter Angkatan ke-46 yang digelar di Auditorium FKIK UMSU, Jalan Gedung Arca No.53 Medan, Sabtu (4/7/2026).
Prosesi yudisium dan pengambilan sumpah dihadiri Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd., Wakil Rektor I Prof. Dr. Muhammad Arifin, M.Hum., Dekan FKIK UMSU dr. Siti Masliana Siregar, Sp.THT-KL., Subsp.Rino(K), para wakil dekan, pimpinan program studi, pimpinan rumah sakit jejaring, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua dan keluarga para lulusan.
Yudisium menjadi penanda berakhirnya proses pendidikan sekaligus awal pengabdian para lulusan sebagai dokter yang akan mengemban tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Rektor UMSU Prof. Akrim menegaskan bahwa keberhasilan menyandang gelar dokter bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Hari ini merupakan cerminan untuk meraih impian di masa mendatang. Pengalaman yang pernah dilalui jangan sampai dilupakan. Jangan sampai capaian ini tidak dijadikan sesuatu yang bermakna,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen UMSU dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan, Prof. Akrim menyampaikan bahwa universitas memberikan beasiswa pendidikan program dokter spesialis bagi alumni.
“Tahun ini kita memberikan beasiswa sebesar Rp60 juta untuk pendidikan program spesialis bedah dan paru sebagai bentuk dukungan kepada alumni agar terus meningkatkan kompetensinya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Akrim juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif di dunia kesehatan. Menurutnya, teknologi akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi profesi dokter. Namun secanggih apa pun AI berkembang, sentuhan kemanusiaan tetap tidak dapat digantikan.
“Tantangan ke depan cukup berat dengan adanya AI. Namun AI tidak bisa menenangkan pasien. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh dokter. Karena itu kami berharap alumni FKIK UMSU mampu bijak dalam penggunaan teknologi, sekaligus membawa nama baik UMSU dan Muhammadiyah di tengah persaingan yang semakin ketat,” tuturnya.
Sementara itu, Dekan FKIK UMSU dr. Siti Masliana Siregar mengatakan bahwa gelar dokter bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme, dan integritas.
Menurutnya, seluruh proses pendidikan yang telah dilalui para lulusan merupakan hasil dari kerja keras, ketekunan, serta komitmen untuk terus belajar. Karena itu, mereka dituntut terus mengembangkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Gelar ini bukan sekadar capaian intelektual, tetapi amanah dan tanggung jawab besar yang harus dipegang. Jadilah dokter yang terus berkarya, mengembangkan diri, memiliki karakter yang kuat, serta mampu menguasai teknologi terbaru untuk menjawab tantangan dunia kesehatan,” ungkapnya.
Mewakili para lulusan, dokter terbaik Angkatan ke-46, dr. Alya Petri, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan yang diraih serta mengucapkan terima kasih kepada dosen, tenaga kependidikan, dan keluarga yang telah mendampingi perjalanan pendidikan hingga berhasil menyandang gelar dokter.
“Alhamdulillah kita berada di titik ini. Semoga kita terus bersama dalam kebersamaan dan profesi. Gelar ini bukan sekadar untuk dibanggakan, tetapi merupakan tanggung jawab yang harus dijaga dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat,” ucapnya.
Melalui yudisium ini, FKIK UMSU kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan dokter yang unggul secara akademik, profesional dalam pelayanan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap menjunjung tinggi etika profesi dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan. (*)
