SUPREMASI.id – Medan | Sebanyak 404 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU) memulai perjalanan pengabdian melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler dan Internasional Tahun 2026.
Bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, belajar berkomunikasi dengan masyarakat, membangun jejaring, sekaligus menemukan berbagai persoalan sosial yang dapat menjadi bekal untuk pengembangan kompetensi dan penelitian.
Pelepasan peserta KKN dilakukan dalam upacara yang digelar di Auditorium UMSU, Jalan Muchtar Basri No. 3, Medan, Selasa (18/8/2026). Rektor UMSU diwakili Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian dan Internasionalisasi (RIPI), Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si., yang memberikan pesan khusus kepada mahasiswa sebelum mereka berangkat ke lokasi pengabdian.
Dari total 404 mahasiswa, sebanyak 312 mahasiswa mengikuti KKN Reguler yang ditempatkan di 31 desa pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Deliserdang. Sementara itu, 56 mahasiswa mengikuti KKN Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia.
Adapun 36 mahasiswa lainnya memperoleh rekognisi KKN karena sebelumnya telah melaksanakan kegiatan pengabdian serta berbagai aktivitas lain yang memenuhi ketentuan program.Bagi FISIP UMSU, pembagian tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berlangsung di lingkungan masyarakat sekitar kampus, tetapi juga telah berkembang ke ruang internasional.
Dalam sambutannya, Dr. Rudianto menekankan bahwa kemampuan akademik saja belum cukup untuk menghadapi dunia profesional. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan berbagai kalangan.
Menurutnya, KKN menjadi salah satu sarana penting untuk melatih kemampuan tersebut karena mahasiswa akan berhadapan langsung dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, kelompok masyarakat hingga berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
“Sebagai calon lulusan perguruan tinggi, kemampuan berkomunikasi menjadi hal yang paling penting. Ability to communicate harus dimiliki untuk melihat sejauh mana kita mampu membangun komunikasi dengan aparat desa maupun masyarakat desa,” ujar Rudianto.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membatasi jejaring hanya pada hubungan yang terbentuk melalui dunia digital.
Kemampuan membangun relasi secara langsung, kata dia, merupakan keterampilan yang akan sangat dibutuhkan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
“Ability to connect with people juga penting. Kita tidak hanya memiliki relasi di dunia maya, tetapi juga harus mampu membangun hubungan dengan masyarakat,” katanya.
Pesan lain yang tidak kalah penting disampaikan Rudianto adalah agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk memperkaya keterampilan.
“Jangan tinggalkan UMSU sebelum punya skill. Ketika menjadi alumni dan keluar dari UMSU, harus memiliki new skill, agar ketika memegang ijazah UMSU, kita bisa lebih unggul dibandingkan lulusan perguruan tinggi lainnya,” tegasnya.
Ia menilai pengalaman KKN dapat menjadi modal berharga bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih nyata. Terlebih bagi peserta KKN Internasional, pengalaman berinteraksi dalam lingkungan berbeda menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun pengalaman global.
Sementara itu, Dekan FISIP UMSU, Dr. Arifin, menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN terdiri atas tiga tahapan utama.Tahap pertama adalah persiapan, yang meliputi sosialisasi program, penentuan lokasi, penetapan dosen pembimbing lapangan (DPL), hingga penyusunan program kerja.
Tahap kedua adalah KKN lapangan. Pada fase ini mahasiswa dituntut untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat dan menjalankan program yang telah disusun. Pelaksanaan KKN lapangan berlangsung hingga akhir Agustus 2026.
Tahap terakhir adalah penyusunan laporan hasil KKN. Mahasiswa tidak hanya diwajibkan membuat laporan tertulis, tetapi juga mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk video dan mengunggahnya melalui media sosial masing-masing.
Arifin mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat KKN sebagai kegiatan yang berhenti setelah program selesai. Berbagai pengalaman dan persoalan yang ditemukan di lapangan dapat dikembangkan menjadi gagasan akademik.
“Apa yang kalian dapat di lokasi KKN dan PKL juga bisa dijadikan judul skripsi untuk menyelesaikan studi,” ujarnya.
Dengan demikian, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk menemukan topik penelitian yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas sosial.
Untuk memastikan seluruh rangkaian KKN berjalan sesuai dengan program, FISIP UMSU juga menyiapkan dosen pembimbing lapangan yang akan mendampingi mahasiswa selama kegiatan berlangsung.
Para DPL diwajibkan mengunjungi lokasi KKN setidaknya satu kali sejak kegiatan dimulai. Kehadiran dosen di lapangan diharapkan dapat memastikan program berjalan dengan baik sekaligus menjadi ruang konsultasi bagi mahasiswa ketika menghadapi berbagai persoalan selama berada di lokasi pengabdian.
Pelepasan 404 mahasiswa ini sekaligus menjadi awal perjalanan baru bagi mahasiswa FISIP UMSU. Selama berada di desa maupun di luar negeri, mereka tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama FISIP dan UMSU.
Karena itu, KKN diharapkan tidak sekadar menghasilkan laporan kegiatan, tetapi meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat serta pengalaman yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih komunikatif, adaptif, mandiri dan memiliki jejaring luas.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I FISIP UMSU Dr. Abrar Adhani, S.Sos., M.I.Kom.; Wakil Dekan III Dr. H. Yurisna Tanjung, S.Sos., M.AP.; Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Dr. Akhyar Anshori, S.Sos., M.I.Kom. dan Dr. Faizal Hamzah Lubis, S.Sos., M.I.Kom.; Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Dr. Sahran Saputra, S.Sos., M.Sos.; serta Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Publik Ananda Mahardika, S.Sos., M.SP. dan Dr. Jehan Ridho Izhar Syah.
Para dosen pembimbing lapangan juga hadir untuk mengawal mahasiswa yang akan menjalani pengabdian di berbagai lokasi.Kini, 404 mahasiswa tersebut bersiap menukar ruang kelas dengan ruang pengabdian. Dari desa-desa di Deliserdang hingga Kuala Lumpur, mereka membawa satu misi yang sama: belajar dari masyarakat, memberi manfaat, dan pulang dengan pengalaman baru yang memperkaya perjalanan akademik mereka di UMSU.(*)
