SUPREMASI.id – Deretan bangunan mulai membentuk wajah baru Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Kawasan yang dipersiapkan sebagai pusat penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 tahun 2027 itu terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Perkembangan tersebut mendapat perhatian Komisaris Independen PT Bank Syariah Indonesia (BSI), Nizar Ahmad Saputra, yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan, Kamis (16/7). Kunjungan ini menjadi bagian dari dukungan BSI terhadap pembangunan infrastruktur yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan Muhammadiyah terbesar di Sumatera Utara.
Nizar disambut Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMSU yang juga Ketua Panitia Muktamar Aisyiyah 2027, Prof. Dr. Agussani, M.AP, didampingi Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Wan Arfiani Barus, M.P., Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam Dr. Muhammad Ruslan, M.Pd., para kepala biro UMSU, serta jajaran BSI.
Di hadapan rombongan, Prof. Agussani memaparkan perkembangan sejumlah fasilitas utama yang akan menjadi penunjang pelaksanaan Muktamar. Auditorium Berkemajuan berkapasitas sekitar 7.000 orang kini telah mencapai progres pembangunan 58 persen. Sementara Sport Hall Walidah berkapasitas 2.500 orang telah rampung sekitar 88 persen. Di kawasan yang sama, pembangunan Masjid KH Ahmad Dahlan juga terus dikebut sebagai pusat aktivitas keagamaan di lingkungan kampus.
Seluruh kawasan Kampus Terpadu UMSU ditargetkan selesai pada Februari 2027 sehingga siap digunakan untuk menyambut ribuan peserta Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Nizar mengapresiasi perkembangan pembangunan yang dinilainya berjalan sesuai harapan. Menurutnya, hubungan antara BSI dan Muhammadiyah selama ini terjalin erat sebagai mitra strategis dalam penguatan pendidikan, ekonomi syariah, dan pemberdayaan umat.
Sebelumnya, BSI telah memberikan dukungan berupa bantuan pembangunan Masjid KH Ahmad Dahlan senilai Rp2 miliar serta beasiswa pendidikan sebesar Rp274 juta bagi mahasiswa UMSU.
Ia berharap Kampus Terpadu UMSU tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar, tetapi juga tumbuh sebagai ikon baru Muhammadiyah di Sumatera Utara.
“Dulu, saat Nabi hijrah ke Madinah, yang pertama dibangun adalah masjid. Begitu juga dengan UMSU, tampaknya masjid akan menjadi ikon utama, kemudian didukung venue dan kampus terpadu yang ke depan akan menjadi ikon Muhammadiyah di Sumatera Utara,” ujar Nizar.
Menurutnya, keberadaan masjid dan fasilitas pendukung Muktamar memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan fisik. Kawasan ini diyakini mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang memiliki visi berkemajuan tentu akan menghadirkan manfaat luas. Adanya masjid dan venue muktamar ini akan tercipta potensi ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Semoga ke depan dapat membangun ekosistem ekonomi dan bisnis yang semakin berkembang,” katanya.
Ia pun optimistis UMSU mampu menjadi tuan rumah yang sukses dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49. Selain memperkuat syiar Muhammadiyah, kegiatan tersebut diyakini akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.
“Saya yakin UMSU bisa menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah 2027. Saya juga meyakini kegiatan ini akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat ke depan,” pungkasnya.
Kampus Terpadu UMSU sendiri mulai dibangun setelah peletakan batu pertama (groundbreaking) pada 22 Desember 2024 yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. Sejak saat itu, pembangunan terus dipercepat agar kawasan pendidikan modern tersebut siap menjadi wajah baru UMSU sekaligus menyambut perhelatan akbar Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 pada 2027. (*)
