SUPREMASI.id ~ Hangat penuh keakraban menyelimuti Auditorium Kampus Utama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sabtu (18/4/2026). Ratusan kader, alumni, hingga tokoh Muhammadiyah dari berbagai daerah di Sumatera Utara berkumpul dalam satu momentum: Silaturahim dan Halal Bihalal yang digelar oleh Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Sumut.
Bukan sekadar ajang temu kangen pasca-Ramadan, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi gagasan, penguatan jaringan, sekaligus peneguhan kembali arah gerakan kaderisasi IMM di tengah dinamika zaman.
Sejak pagi, para peserta tampak memadati auditorium. Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum Pimpinan Pusat FOKAL IMM Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., Rektor UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP., jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Sumatera Utara, hingga perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Kehadiran mereka menegaskan bahwa IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan bagian penting dari ekosistem besar Muhammadiyah.
Dalam pembukaan acara, Sekretaris Umum DPD IMM Sumut, Akbar Mihadits, menyampaikan kabar menggembirakan terkait perkembangan organisasi. Ia menuturkan bahwa ekspansi IMM di Sumatera Utara terus menunjukkan tren positif.
“Dalam waktu dekat, kita berhasil menambah tiga cabang baru di Nias, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara. Ini menjadi bukti bahwa gerakan kaderisasi terus tumbuh,” ujarnya dengan optimisme.
Semangat itu kemudian disambut oleh Sekretaris FOKAL IMM Sumut, Ahmad Khairuddin, S.E., M.Si., yang menekankan pentingnya menjaga ikatan emosional antaralumni. Menurutnya, silaturahim seperti ini bukan hanya mempererat hubungan, tetapi juga menjadi wadah strategis untuk memperkuat peran alumni dalam mendukung keberlanjutan organisasi.
Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menyerahkan mandat kepada sejumlah pimpinan daerah FOKAL IMM di berbagai kabupaten/kota, sebagai bagian dari upaya memperluas struktur dan memperkuat basis gerakan alumni.
Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, M.AP., dalam sambutannya mengingatkan bahwa IMM memiliki posisi strategis di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Ia mengapresiasi kiprah para alumni IMM yang telah banyak berkontribusi di berbagai posisi penting, khususnya di lingkungan kampus.
“IMM harus tetap menjadi garda terdepan. Banyak alumni yang kini menduduki posisi strategis, dan itu menjadi kekuatan besar bagi persyarikatan,” ungkapnya.
Dukungan serupa datang dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Melalui Kepala Kesbangpol, Dr. Ir. Mulyono, S.T., M.Si., pemerintah menyatakan komitmennya untuk membuka ruang kolaborasi yang luas bersama berbagai elemen, termasuk FOKAL IMM.
“Sinergi adalah kunci. Kami membuka peluang kerja sama seluas-luasnya untuk membangun Sumatera Utara bersama,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. Hasrat Samosir, M.A., yang mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut, mengingatkan pentingnya peran kader IMM dalam menyongsong agenda besar Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Sumatera Utara. Ia berharap kader IMM mampu menjadi tuan rumah yang baik sekaligus aktor strategis dalam menyukseskan agenda tersebut.
Puncak acara ditandai dengan arahan dari Ketua Umum PP FOKAL IMM, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si. Dalam pidatonya yang tegas dan reflektif, ia menyoroti pentingnya komitmen moral dan organisatoris dalam menghidupkan IMM, khususnya di lingkungan PTMA.
“Apa pun latar belakang organisasinya saat mahasiswa, ketika sudah menjadi pejabat struktural di PTMA, ada kewajiban untuk menghidupkan IMM. Jangan sampai justru dipersulit,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang membutuhkan regenerasi berkelanjutan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Dalam konteks ini, IMM memiliki peran yang sangat vital.
Menurutnya, proses kaderisasi seperti Darul Arqam Dasar (DAD) menjadi fondasi penting dalam mencetak kader persyarikatan. Ia bahkan menyebut bahwa sebagian besar alumni DAD berpotensi besar menjadi penggerak Muhammadiyah di berbagai lini.
Lebih jauh, Prof. Ma’mun mengingatkan agar trilogi IMM—keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan—tetap menjadi ruh perjuangan. Ia menilai, di tengah tantangan sosial saat ini, dimensi kemasyarakatan perlu mendapat perhatian lebih.
“Segmen kemasyarakatan sangat relevan untuk diperkuat. Di situlah IMM bisa benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Menutup arahannya, ia memberikan apresiasi terhadap diaspora kader IMM Sumatera Utara yang dinilai semakin menunjukkan eksistensi di berbagai sektor, termasuk politik dan ruang-ruang pengabdian publik.
Silaturahim ini pun berakhir bukan hanya dengan jabat tangan dan senyum, tetapi juga dengan semangat baru: menjaga nyala kaderisasi, memperkuat soliditas, dan memastikan IMM tetap menjadi denyut nadi gerakan Muhammadiyah di masa depan. (*)
