Kajari Medan Fajar Syah Putra SH MH
Suara mesin truk pengangkut sawit dan kayu itu mungkin masih terngiang di benak Fajar Syah Putra SH MH, Alumni Fakultas Hukum UMSU Stambuk 98 yang kini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Medan.
Kala itu, bocah dari Kisaran ini sejak SMP sudah terbiasa mengangkat tandan buah sawit dan memuatnya ke kendaraan ataupun mengangkut kayu hasil usaha keluarga. Di usia belia itu bahkan ia dengan berani mulai membawa truk pengangkut tersebut.
Ia sudah mengenal arti kerja keras, peluh, dan tanggung jawab jauh sebelum mengenakan toga sarjana hukum, apalagi seragam cokelat khas kejaksaan.
Fajar yang lahir di Asahan pada 17 September 1979 tumbuh di keluarga yang tak ada jejak birokrat di rumahnya. Ayah dan ibunya adalah petani dan pengusaha kecil di bidang kayu dan kebun sawit. Anak bungsu dari delapan bersaudara ini menyaksikan bagaimana orangtuanya mengajarkan satu prinsip hidup yang kelak menjadi fondasi kariernya “kalau mau uang, harus bekerja”.
Setiap akhir pekan, remaja Fajar ikut membantu di panglong dan kebun sawit keluarga. Ia mengangkat sawit dan kayu, menata muatan sawit, bahkan menyetir truk. “Rasanya bangga kalau sudah bisa gajian dari hasil kerja sendiri,” kenangnya. Dari situ ia belajar kebahagiaan sederhana adalah ketika keringat sendiri terbayar tuntas.
Seperti banyak anak laki-laki pada zamannya, Fajar kecil terpesona melihat seragam TNI yang gagah. “Waktu itu, saya pikir yang paling berwibawa itu tentara,” katanya sambil tersenyum. Ia pun mendaftar masuk AKABRI setelah lulus SMA Negeri 2 Kisaran.
Dari 45 peserta awal, hanya segelintir yang lolos sampai tahap akhir. Fajar termasuk yang harus menerima kenyataan pahit, gagal di ujung seleksi. Ia sempat ditawari untuk masuk jalur bintara tanpa tes, tetapi menolaknya karena cita-citanya adalah menjadi perwira.
Kegagalan itu tak membuatnya runtuh. Ia mengubah arah, namun tetap berpegang pada semangat yang sama. “Saya masih ingin berseragam dan menegakkan hukum,” ujarnya.
Jalannya kemudian menuntun ke Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Fakultas Hukum. “Saya pilih hukum karena tahu dari situ bisa jadi oditur militer,” kenangnya. Apalagi salah seorang kakaknya pada saat itu juga kuliah di UMSU jurusan Teknik, atas gambaran dari kakaknya tentang bagusnya UMSU, ia pun memilih kampus tersebut.
Masa kuliah di UMSU tak pernah mudah. Dengan uang bulanan Rp350 ribu, Fajar harus memutar otak agar cukup untuk makan, transportasi, dan kuliah. Untungnya untuk tempat tinggal, mereka dikontrakkan rumah oleh orang tuanya karena kakaknya juga kuliah ditempat sama. Saat akhir pekan atau masa libur panjang, ia pulang ke Kisaran untuk membantu orangtuanya mengangkut sawit, lagi-lagi demi sedikit tambahan uang saku.
“Kalau kuliah libur, saya full kerja di ladang. Gajinya enam lima rupiah per kilo,” katanya, mengingat masa reformasi 1998 yang membuat kuliah sempat diliburkan panjang. Namun justru dari situ ia belajar manajemen keuangan dan arti kerja keras yang sesungguhnya.
Untuk menambah uang, Fajar menerima jasa ketik makalah teman-temannya. “Untung di rumah ada komputer dan printer,” ujarnya. Sepupunya yang ternyata ada juga kuliah di hukum sering berbagi buku, membuatnya bisa belajar lebih cepat dari mahasiswa lain.
Nilai kuliahnya tak selalu gemilang di awal, tapi tekadnya luar biasa. “Saya harus cepat tamat,” begitu ia meneguhkan diri. Dukungan teman-teman seangkatan dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan mengubah nasib membuatnya menamatkan kuliah tepat waktu.
Setamat kuliah di Tahun 2002 menjadi titik balik besar. Ia mendaftar sebagai calon pegawai negeri di Kejaksaan. Dari ratusan pelamar di Sumatera Utara, hanya 20 orang diterima dan hanya tiga dari UMSU. Fajar termasuk di antara mereka.
Ia selalu ingat pesan almarhum ayahnya: “Kalau ada rasa bangga di hatimu, cepat-cepatlah istighfar”. Kalimat itu menjadi pengingat agar ia tetap rendah hati di setiap langkah.
Kejaksaan Negeri Sibolga menjadi penempatan pertama dirinya bertugas. Gaji Rp650 ribu per bulan, kos Rp350 ribu. Kadang harus menjadi sopir, kadang mengawal tahanan. “Saya bahkan pernah nyupirin Kajari sendiri,” kenangnya dengan tawa. Tapi dari situ pula muncul mimpi baru bahwa suatu hari ia ingin berada di kursi itu menjadi Kepala Kejaksaan Negeri.
“Dari dekat saya lihat bagaimana Kajari bersikap, rendah hati, dan tegas. Dari beliau saya belajar bukan hanya soal hukum, tapi juga soal menjadi manusia.”
Setelah menempuh pendidikan jaksa pada akhir 2005, Fajar mendapat penugasan di kampung halamannya, Kisaran. Sebuah kebanggaan sekaligus ujian. “Hampir tiap hari ada orang datang ke rumah, minta tolong karena tahu saya jaksa,” ujarnya. Tapi ia tak ingin mengecewakan amanah profesinya. “Saya jelaskan, jaksa itu bukan memutuskan perkara. Kalau salah ya tetap salah. Saya bantu dengan solusi, bukan manipulasi.”
Ia mengawali karir jabatannya sebagai Kasubsi Ekonomi dan Moneter di Kejari Kisaran, lalu dipercaya sebagai Kasi Intelijen Kejari Ujung Tanjung dan selanjutnya jabatan sama di Kejari Bagan Siapiapi.
Karirnya terus menanjak karena dipercaya sebagai Kajari Karo, lalu sebagai Kajari Cirebon dan dipromosikan sebagai Aspidsus Kejati Banten. Kini, ia dipercaya sebagai Kajari Medan.
Dari perjalanan panjang itu, Fajar menyimpan banyak pelajaran. “Kalau mau bahagia, jangan pernah sakit hati sama orang lain,” katanya mantap. Menurutnya, kebahagiaan bukan datang dari uang atau jabatan, tapi dari hati yang tenang.
Sebagai pimpinan, ia belajar dari berbagai karakter atasan yang pernah membimbingnya. “Rata-rata hidup mereka sederhana, tidak emosional, dan selalu menjaga diri dari kesombongan. Itu saya tiru.”
Dulu, saat masih lajang, Fajar kerap menyalurkan adrenalin lewat hobi off-road. Kini, setelah berkeluarga, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk camping bersama istri dan anak-anak. “Kalau dulu menaklukkan lumpur dengan mobil, sekarang menikmati keheningan alam dengan keluarga,” katanya sambil tertawa.
Bagi Fajar, kebersamaan keluarga adalah sumber energi. “Kalau hati di rumah tenang, kerja di kantor pun penuh semangat,” ujarnya.
Untuk para anak muda dan wisudawan, ia berpesan agar tidak berhenti belajar dan menjaga etika. “Ilmu tinggi tanpa adab, tidak akan disukai siapa pun,” ujarnya. “Hormati semua orang, bukan karena jabatannya, tapi karena dia manusia.”
Kisah hidup Fajar Syah Putra adalah potret perjalanan panjang dari kesederhanaan menuju tanggung jawab besar. Dari truk kayu dan sawit di Kisaran, kini ia duduk memimpin Kejaksaan Negeri Medan. Tetap dengan semangat yang sama yakni kerja keras, rendah hati dan penuh syukur.
Ia membuktikan, seragam gagah bukan hanya milik tentara, tapi juga milik mereka yang menegakkan keadilan dengan ketulusan. Dan bagi Fajar, setiap pencapaian bukanlah akhir perjalanan, melainkan cara untuk terus bersyukur dan berbuat lebih baik lagi.(*)
