Rektor UMSU Prof Dr Agussani MAP serahkan cindera mata kepada Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H.
SUPREMASI.id ~ Suasana di Auditorium Kampus Utama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), siang itu penuh dengan energi dan antusiasme. Ratusan mahasiswa memadati kursi, mata mereka tertuju ke podium utama. Ini bukan kuliah biasa. Mereka hadir dalam program “MPR Goes to Campus”, dengan sebuah misi khusus: mendengarkan dan berdialog tentang salah satu tantangan terbesar zaman ini perubahan iklim dan urgensi transisi energi.
Di hadapan mereka, Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H., berdiri untuk menyampaikan kuliah umum bertajuk “Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim”. Acara yang dimoderatori oleh Dosen FEB UMSU, Agus Sani, S.E., M.Sc., ini menjadi jembatan antara pembuat kebijakan di tingkat nasional dengan calon-calon pemimpin masa depan.
Kampus Sebagai Ruang Inkubator Solusi
Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, M.AP., dalam sambutannya menegaskan peran sentral perguruan tinggi. “Perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus melahirkan generasi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, serta komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya. Ia melihat momentum ini sebagai kesempatan emas bagi mahasiswa untuk beralih dari “penonton” menjadi “bagian dari solusi”.
Pernyataan rektor ini seolah membuka panggung bagi Eddy Soeparno untuk menyampaikan pesan yang lebih tegas. Dengan nada serius, ia mengingatkan semua yang hadir, “Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi sudah kita rasakan hari ini.”
Transisi Energi: Sebuah Keharusan yang Tak Bisa Ditawar
Dalam paparannya, Eddy Soeparno menekankan bahwa ketergantungan pada energi fosil adalah akar masalah yang mendorong pemanasan global. Ia menggambarkan transisi menuju energi terbarukan bukan sekadar pilihan lingkungan, melainkan sebuah pondasi untuk keberlanjutan ekonomi dan masa depan bangsa. “Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi dan masa depan bangsa,” tegasnya.
Namun, ia tidak berhenti pada diagnosis masalah. Eddy secara khusus menyoroti peran aktif yang harus diambil generasi muda. “Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi ambil peran dalam mendorong inovasi dan kebijakan yang pro-lingkungan,” ajaknya. Seruan ini adalah sebuah mandat, mengubah mahasiswa dari objek edukasi menjadi subjek aksi.
Panggung Nasional: Mendesaknya Payung Hukum dan Kolaborasi
Diskusi kemudian mengerucut pada langkah-langkah kongkret di tingkat kebijakan. Eddy Soeparno mendorong agar tahun 2026 dijadikan sebagai tahun mitigasi krisis iklim yang serius. Salah satu kunci utamanya adalah percepatan pengesahan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim.
“Keberadaan undang-undang khusus perubahan iklim akan memberikan kepastian arah kebijakan jangka panjang mitigasi iklim, serta memperkuat akuntabilitas negara dalam memenuhi komitmen penurunan emisi,” jelasnya. Ia melihat RUU ini sebagai payung hukum yang mampu menyatukan berbagai regulasi sektoral yang selama ini masih tersebar dan kurang terkoordinasi.
Lebih jauh, Eddy menekankan pentingnya kolaborasi berbasis data. Ia mendorong sinergi erat antara pemerintah dan dunia akademik. “Hasil riset dan data-data ilmiah dari universitas sangat diperlukan untuk menyusun kebijakan yang tepat dan berdampak,” ujarnya. Pernyataan ini menempatkan kampus, termasuk UMSU, bukan hanya sebagai penyelenggara acara, tetapi sebagai mitra strategis dalam merumuskan kebijakan nasional.
Menutup dengan Harapan, Membuka dengan Komitmen
Kuliah umum yang interaktif itu pun ditutup dengan harapan. Dialog ini tidak dirancang untuk berakhir di auditorium. Ia diharapkan menjadi percikan kesadaran yang tumbuh menjadi tindakan nyata. Tujuannya jelas: melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berkomitmen penuh pada keberlanjutan lingkungan.
Di luar ruangan, udara Medan mungkin masih sama. Namun, di benak ratusan mahasiswa yang hadir, mungkin telah tertanam sebuah pertanyaan baru: peran apa yang akan saya ambil dalam upaya besar menyelamatkan bumi ini? Seperti yang ditegaskan oleh para pembicara, jawabannya tidak boleh lagi “sekadar menonton”.(*)
