Pagi itu, suasana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FEB UMSU) berjalan seperti biasa. Di sebuah ruangan dekanat, Dr. Radiman, SE, MSi terlihat tekun menandatangani sejumlah dokumen. Di belakang kursinya, terpajang foto-foto wisuda, sertifikat penghargaan, dan berbagai penanda perjalanan akademik yang telah ia tempuh.
Di antara rutinitas itu, ia berhenti sejenak. Menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.
“Kadang saya sendiri tidak menyangka, anak kampung seperti saya bisa sampai di titik ini,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar kerendahan hati. Di baliknya, tersimpan perjalanan panjang yang ditempa oleh keterbatasan, kegagalan, kerja keras, dan keteguhan hati.
Akar Kehidupan dari Desa Pesisir
Radiman lahir di Batahan, sebuah kawasan pesisir di Kabupaten Mandailing Natal. Masa kecilnya jauh dari kemudahan. Jalan menuju sekolah masih berupa tanah, yang berubah menjadi lumpur setiap kali hujan turun.
Setiap pagi ia berjalan kaki menuju sekolah, buku-buku dibungkus plastik agar tidak rusak jika hujan datang tiba-tiba.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang pedagang, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Sebagian besar keluarga besarnya berprofesi sebagai petani dan nelayan. Dunia akademik bukanlah lingkungan yang akrab bagi keluarganya.
Meski demikian, ada cerita kepemimpinan dalam silsilah keluarganya. Sang kakek disebut pernah menjadi pejabat kerajaan di masa lampau. Kisah itu kerap diceritakan ayahnya sebagai motivasi.
“Kalau akademik, saya ini bisa dibilang anomali di keluarga,” katanya ringan.
Kejatuhan Ekonomi yang Mengubah Arah Hidup
Kehidupan keluarga Radiman pernah berada dalam kondisi cukup mapan. Ayahnya memiliki beberapa kapal motor yang digunakan untuk usaha angkutan barang dan hasil laut. Rumah mereka yang berada di tepi muara menjadi saksi aktivitas usaha keluarga tersebut.
Namun situasi berubah drastis ketika dua kapal mereka tenggelam dalam waktu berdekatan — satu di sekitar perairan Nias dan satu lagi di muara dekat rumah.
Tidak ada korban jiwa, tetapi dampak ekonominya sangat besar.
“Sejak itu ekonomi keluarga langsung turun. Kami harus hidup sangat sederhana,” kenangnya.
Impian untuk melanjutkan pendidikan ke Medan sempat tertunda. Kondisi memaksanya menerima kenyataan dan tetap bersekolah di kampung halaman.
Namun dari situ ia belajar satu hal penting: ketahanan hidup.
“Hidup ini seperti kapal. Kadang harus karam dulu supaya kita belajar cara bertahan,” ujarnya.
Muhammadiyah dan Jiwa Aktivisme
Perjalanan organisasinya dimulai ketika ia bersekolah di MTs Muhammadiyah Batahan. Ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan kemudian dipercaya menjadi ketua.
Pengaruh itu tidak datang tiba-tiba. Ayahnya merupakan perintis Muhammadiyah di daerah tersebut, terinspirasi dari pertemuannya dengan Buya Hamka saat berdagang ke Sumatera Barat.
Sejak kecil, Radiman terbiasa melihat rumahnya menjadi tempat diskusi, rapat, dan pengajian.
“Mungkin tanpa sadar saya tumbuh dalam atmosfer gerakan dakwah dan pendidikan,” katanya.
Pengalaman itu membentuk karakter kepemimpinan dan semangat pengabdian yang kelak menjadi bekal penting dalam hidupnya.
Bertahan Hidup di Kota Besar
Kesempatan ke Medan akhirnya datang ketika salah satu abangnya kuliah di UMSU. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Dharmawangsa.
Namun kehidupan di kota tidak mudah. Kiriman uang terbatas membuatnya harus berhemat. Ia pernah menunggak uang kos dan beberapa kali berpindah tempat tinggal.
Sampai akhirnya ia tinggal di rumah keluarga temannya di Marelan. Di sana, ia mulai bekerja di pabrik roti sepulang sekolah.
“Pagi sekolah, sore sampai malam kerja. Berat, tapi itu yang membentuk saya,” ujarnya.
Gagal Berkali-kali, Tidak Berhenti Melangkah
Setelah lulus SMA, ia sempat mencoba masuk sekolah kedinasan melalui AKABRI dan AKPOL. Dua kali mencoba, dua kali pula gagal.
Kekecewaan sempat datang, tetapi tidak membuatnya berhenti.
Takdir justru membawanya kembali ke UMSU. Ketertarikannya pada kampus itu awalnya sederhana: ia sering melihat latihan PSMS di lapangan kampus karena hobi bermain sepak bola.
Dari ketertarikan itu, ia akhirnya memilih kuliah di Fakultas Ekonomi.
Di kampus, jiwa aktivismenya kembali hidup. Ia menjadi Ketua PK IMM, Sekretaris BEM UMSU, serta aktif dalam Tapak Suci dan kegiatan olahraga.
Di balik aktivitas itu, perjuangan ekonomi tetap berjalan.
“Kadang makan cuma sekali sehari. Tapi karena sama-sama aktivis, susahnya terasa ringan,” kenangnya.
Pendidikan yang Tertunda, Mimpi yang Tidak Padam
Setelah lulus S1, ia melanjutkan studi ke Universitas Sumatera Utara. Namun keterbatasan biaya membuatnya harus berhenti di tengah jalan.
Situasi itu tidak membuatnya menyerah. Ia mengambil berbagai pekerjaan proyek, termasuk saat momentum pemilu. Dari hasil kerja itulah ia mengumpulkan biaya untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Syiah Kuala.
“Saya percaya, kalau mau berusaha, selalu ada jalan. Kadang jalannya tidak lurus, tapi tetap sampai,” katanya.
Dari Politik ke Dunia Akademik
Selepas pendidikan, Radiman sempat aktif di dunia politik melalui Partai Amanat Nasional dan pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Namun hasilnya belum berpihak.
Di tengah masa tersebut, ia mendapat panggilan yang mengubah arah hidupnya. Prof. Dr. Agussani, MAP menghubunginya dan mengajak untuk mengabdi sebagai dosen di almamaternya.
Ia menerima tawaran itu, dan sejak saat itu jalur akademik menjadi fokus hidupnya.
“Itu titik balik saya. Mungkin ini memang jalan pengabdian saya,” ujarnya.
Cinta, Keluarga, dan Perjuangan Hidup
Kisah lain datang dari pertemuannya dengan Sri Fitri Wahyuni, alumni FEB UMSU yang kemudian menjadi istrinya. Pertemuan sederhana di kampus berlanjut ke proses taaruf yang singkat.
Dengan kondisi ekonomi yang belum mapan, ia tetap memberanikan diri melamar.
Pernikahan mereka berlangsung pada Agustus 2008. Setelah penantian tujuh tahun, mereka dikaruniai seorang anak.
Baginya, keluarga adalah bagian dari energi perjuangan hidup.
Akademisi yang Tetap Berjiwa Wirausaha
Selain menjadi dosen dan pimpinan fakultas, Radiman juga tetap menjalankan usaha. Ia pernah mencoba berbagai bidang, mulai dari perkebunan hingga usaha jasa.
Saat ini, usaha pangkas rambut, rumah kos, dan penjualan parfum masih ia jalankan.
Baginya, bisnis bukan semata keuntungan.
“Bisnis itu melatih kesabaran dan tanggung jawab,” ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Sebagai akademisi, ia selalu menekankan pentingnya ketekunan kepada mahasiswa.
Pesannya sederhana:
“Jangan berhenti bergerak, jangan takut gagal, dan jangan suka mengeluh. Yang menentukan masa depan bukan keadaan, tapi kemauan.”
Kini, setiap melangkah di lingkungan kampus yang dulu menjadi tempatnya berjuang, ia kerap teringat masa lalunya.
Ia percaya, di antara ribuan mahasiswa yang ada hari ini, pasti ada kisah perjuangan yang serupa.
“Kalau saya bisa, mereka juga pasti bisa,” katanya.
Perjalanan hidup Radiman menjadi gambaran bahwa latar belakang bukanlah batas. Dari sebuah desa kecil di pesisir Batahan, langkahnya kini bermuara di dunia akademik sebagai Dekan FEB UMSU — sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa kerja keras selalu menemukan jalannya.(*)
