SUPREMASI.id ~ Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, sebuah langkah berbeda hadir dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Labuhan Ruku. Bukan hanya menjalankan fungsi pembinaan warga binaan, lapas ini juga mulai menanam harapan melalui pemanfaatan lahan produktif seluas 10 hektar di kawasan Air Joman untuk budidaya jagung.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Hukum dan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Asahan (UM Asahan), Sofian, SH, MH. Ia menilai kebijakan yang digagas Kepala Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Dr. Hamdi Hasibuan, ST, SH, MH, merupakan bentuk kepemimpinan progresif yang mampu menghubungkan pembinaan masyarakat dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Menurut Sofian, langkah yang dilakukan Kalapas Labuhan Ruku tidak sekadar menghadirkan program pertanian biasa, tetapi juga mencerminkan transformasi cara pandang lembaga pemasyarakatan yang lebih produktif, edukatif, dan berorientasi pada pemberdayaan.
“Program ini menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan secara hukum, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan produktif yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi,” ujar Sofian.
Ia menilai, pemanfaatan lahan pertanian untuk penanaman jagung memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi media pembentukan karakter bagi warga binaan. Melalui keterlibatan langsung dalam pengelolaan lahan, warga binaan dapat belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, hingga keterampilan kerja yang nantinya bermanfaat ketika kembali ke tengah masyarakat.
Bagi Sofian, pendekatan seperti ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan dapat dilakukan secara lebih humanis dan berkelanjutan. Program tersebut juga dinilai mampu menghadirkan optimisme baru bahwa lembaga pemasyarakatan dapat berkontribusi nyata terhadap sektor ekonomi dan pangan.
“Kebijakan Dr. Hamdi Hasibuan dalam mengembangkan sektor pertanian di lingkungan masyarakat merupakan langkah inovatif yang patut diapresiasi. Ini menjadi sinergi yang baik antara pembinaan warga binaan dengan kebutuhan pembangunan nasional, khususnya di bidang pangan dan pemberdayaan sumber daya manusia,” katanya.
Di atas lahan pertanian yang mulai ditanami jagung itu, bukan hanya benih yang ditumbuhkan, tetapi juga semangat perubahan. Program ketahanan pangan tersebut diharapkan dapat menjadi model pembinaan modern yang mampu mengubah stigma terhadap lembaga pemasyarakatan.
Sofian berharap program serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi lembaga pemasyarakatan lain di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari komitmen kepemimpinan Dr. Hamdi Hasibuan yang dinilai mampu membangun sistem pembinaan masyarakat yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
“Pembinaan yang baik adalah pembinaan yang mampu memberi bekal kehidupan. Ketika warga binaan memiliki keterampilan dan produktivitas, maka mereka memiliki peluang lebih besar untuk kembali menjadi bagian positif di tengah masyarakat,” tutupnya.(*)
